Archive for the 'kolom' Category

Seandainya ada Doraemon

(Meramal Masa Depan Lewat Komik)

doraDi liburan yang tidak sepenuhnya liburan ini. Saya sempat teringat akan suatu hal. Waktu kecil atau sekarang juga masih, saya suka sekali membaca komik doraemon. Dulu saya sering berkhayal seandainya ada robot kucing dari abad ke-22 seperti doraemon, pasti enak yah. Apalagi di lagunya doraemon, ada lirik yang berbunyi:
“semua..semua..semua..dapat dikabulkan. dapat dikabulkan dengan kantong ajaib..”
(  jadi geli sendiri :mrgreen: )
Walaupun sudah besar eh dewasa, saya masih sedikit percaya bahwa mungkin saja suatu hari akan ada robot kucing seperti doraemon. Eh, benar, loh. Saya masih mempunyai harapan untuk itu. Dan mungkin saja rekan-rekan dari tehnik malah telah mulai mewujudkannya.
Hal tersebut bisa saja bukan cuma sekadar mimpi. Masih ingat dengan ‘Richie Rich’ si bocah yang kaya raya. Dikisahkan bahwa Richie Rich mempunyai pelayan perempuan ,bernama Irona, yang sangat luwes dalam bekerja. Hmm, mungkin hal itu terlihat seperti khayalan. Tapi, dengan keberhasilan diciptakannya robot ‘ashimo’, dan akhir-akhir ini di Jepang juga telah muncul robot resepsionis atau guide wanita yang seperti manusia sungguhan, sepertinya Irona – si robot pelayan – bukan hal yang mustahil lagi.
Ya, dengan teknologi, memang tak ada yang tak mungkin. Sejak ditemukannya mesin uap sampai mem-booming-nya internet di tahun 90-an, manusia memang semakin menguasai tehnologi dan terus mengembangkannya.
Tapi, layaknya dua sisi mata uang, selain dampak positif, pastilah ada dampak buruk dari sebuah kemajuan tehnologi.

___

Mungkin anda pernah mendengar atau membaca tentang cerita komik bahwa pada abad ke -22 akan ada suatu bangsa yang berjalan dengan kaki robot karena kakinya sendiri sangat lemah untuk berjalan.
Coba bandingkan dengan hal ini :
Orang zaman dahulu mempunyai fisik yang kuat untuk naik-turun bukit atau melakukan perjalanan jauh. Tapi orang zaman sekarang – terutama perkotaan – makin enggan berjalan kaki dan lebih memilih naik kendaraan umum maupun pribadi. Dan kalau di suruh berjalan jauh, pasti juga enggan karena kita tahu bakalan capek dan tidak kuat.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya fisik orang zaman dulu lebih kuat dari pada orang zaman sekarang. Ini menunjukkan bisa jadi manusia akan semakin manja dan sangat tergantung tehnologi.

Atau anda mungkin pernah mendengar kisah bahwa suatu hari (mungkin di abad ke-22) para robot ingin menguasai dunia dan memusnahkan manusia dari peradaban.
Bisa jadi hal tersebut ada benarnya, meskipun mungkin tak se-ektsrim itu. Tapi coba kita ingat. Tahun 2006 silam, sempat terjadi gempa hebat yang menyebabkan serat optik (untuk jaringan internet) di bawah laut rusak. Akibanya sudah dapat ditebak. Dalam beberapa hari banyak sektor kehidupan terganggu dan mengalami kekacauan, termasuk sektor ekonomi (terutama e-business*).
Dan coba apa jadinya kalau tiba-tiba file-file tugas kita hilang…dunia serasa mau kiamat. Apalagi kalau tidak berhasil ditemukan :(
Nah, sepertinya lama-kelamaan, komputer, robot, dan sebangsanya semakin mendarah daging di kehidupan kita. Bahkan bisa dikatakan kalau kita mulai mengalami ketergantungan berkelanjutan padanya??
Yah, tidak apa-lah. Sejauh ini tehnologi masih dalam kendali kita kan ? (mudah-mudahan perkiraan saya tidak salah)
Semoga dongeng tentang robot yang ingin menguasai dunia dan memusnahkan manusia akan tetap menjadi dongeng sebelum tidur belaka :wink:

___

Seharusnya hal ini justru memancing kita untuk makin menguasai tehnologi bukannya dikuasai tehnologi dan kemajuan tehnologi seyogyanya tidak menjadikan manusia semakin manja. Betul?
Yah, inilah hasil lamunan saya selama seminggu (di sela-sela semester pendek :mrgreen: ). Ada tanggapan?

Footnote :
* e-business : electronic business. Bisnis yang dalam operasinya menggunakan fasilitas seperti jaringan internet misalnya.

Indonesia Kapitalis..?!?

Sebagai mahasiswa, saya mulai menemukan gejala aneh. Aneh sekali tepatnya.Sudah sering kita dengar atau kita pelajari bahwa Indonesia adalah negara yang berasaskan Pancasila dimana sistem ekonominya merupakan ekonomi Pancasila bukan kapitalis. Benarkah?Saya bukan hendak berdebat dengan dosen atau dengan guru SMA mengenai bentuk sistem perekonomian Indonesia tapi saya akan mencoba menganalisis bagaimana posisi Indonesia di era pasar bebas dan setidaknya menyadarkan kita bahwa kita memang sudah di ujung tanduk. ”Indonesia bukan kapitalis”. Kata ini yang masih saya pegang teguh sampai saat ini dan saya mempercayai hal itu tapi dengan catatan. Saham, bursa efek, suku bunga, hak paten, hak cipta dan lain sebagainya merupakan produk kapitalis. Tidak hanya itu, promnight, valentine, dansa, pizza, burger, dan yang parah lagi belakangan makin terdengar santer halloween…apaan tuh? Produk kapitalis kah? :mad: Saya lebih suka menyebut bahwa Indonesia merupakan negara yang berasaskan Pancasila namun terjebak dalam gelombang kapitalisme. Sama seperti negara Asia lainnya yang juga makin didera ke-kapitalisme-an akibat globalisasi.

Memang mungkin ada yang berfikir bahwa pembicaraan saya terlalu tinggi atau kasarannya muluk-muluk. Tapi sebagai mahasiswa ekonomi yang tidak ingin terjebak dalam situasi ’kapitalis’ yang semakin nyata, saya merasa mempunyai kewajiban untuk menumpahkan buah pikiran saya pada tulisan ini.Walaupun kita sudah merdeka (wiuh, lily sok pahlawan…), tapi saya rasa kita belum 100% terbebas dari imperalisme. Seperti orang-orang bilang dan sering didengungkan oleh para mahasiswa (kalau sedang demo) bahwa kita dijajah oleh neo-imperalisme. Hal itu seharusnya tidak hanya menjadi jargon saja tapi harusnya kita mulai sadar bahwa bahaya itu semakin nyata. Dari sektor ekonomi, kita telah terjebak dalam pengaruh kapitalis. Selain itu, di bangku kuliah kita juga banyak menggunakan literatur berbahasa asing (baca : bahasa inggris) yang sedikit banyak mengandung paham kapitalis atau setidaknya paham-paham asing. Hal ini mungkin juga disebabkan belum banyak rujukan buku yang berbahasa Indonesia (yang bisa dipakai sebagai pedoman kuliah tentunya).

Contoh diatas baru dari bangku kuliah, belum lagi dari contoh lain seperti fashion, hiburan, gaya hidup (seperti promnight dan sebangsanya), makanan, dan banyak lagi yang telah terpengaruh gaya barat yang identik dengan produk kapitalis.Nah, semakin jelas, kan, tepatnya Indonesia kini sudah terjebak di antara gelombang kapitalis, sama seperti negara-negara Asia lainnya. Karena gelombang kapitalis begitu dahsyatnya menghantam perekonomian kita, akhirnya sebagai penetral, bagi yang berminat ditawarkan mata kuliah ’Ekonomi Islam’ sebagai alternatif pilihan (saya sendiri belum mengambil mata kuliah ini..mungkin semester depan).

Selain itu dengan adanya bisnis franchise [1] dari luar negeri merupakan bentuk kapitalisme baru yang saat ini makin menjamur di negeri ini dan mulai mematikan sektor usaha kecil dan mikro. Duh pokoknya kompleks deh kalau sudah ngomongin yang ginian.Setidaknya kita sadar kalau kita sudah terjebak. Tindak lanjutnya, janganlah kita sampai terseret dalam arus globalisasi. Kita seharusnya mempunyai identitas sebagai bangsa yang besar (ya ampun, bahasanya :lol: ) Jangan cuma asal ngikut aja kemana arus membawa kita. Hmm..butuh kerja keras untuk itu, sih. Apalagi kita sudah terbiasa ’latah’[2] dan kurang kreatif (mudah-mudahan saya tidak termasuk kedua kategori tersebut :roll: )Ingin nggak sekali-kali lihat para bule pake kebaya dan kondean atau makan getuk[3] :mrgreen: Sendirian melawan kapitalisme, tidak akan bisa merubah apapun. Maka marilah budayakan mencari jati diri bangsa. Mungkin kita keenakan makan fried chicken sampai kita lupa kalau di depan rumah kita ada penjual pempek. Mungkin kita keasyikan mengoleksi ’Gucci’ sampai lupa kalau kita punya ’Cibaduyut’ dan ’Dagadu’ (Upss..nyebut merk). Cukup sudah perekonomian kita terjajah oleh kapitalisme, tapi jangan sampai harga diri dan budaya kita terjajah juga. Beneran nih saya prihatin (serius !! )Mungkin tidak akan cukup saya berbicara mengenai hal ini dengan sederet tulisan ini (sederet?!…berderet-deret maksudnya :D ). Lain kali akan saya sambung lagi…. :) Sampai tulisan ini selesai dibuat pun saya masih percaya bahwa Indonesia bukan kapitalis tapi terjebak dalam gelombang kapitalisme.

Footnote:

[1] waralaba. Semacam lisensi tapi bukan lisensi (aduh, susah njelasinnya…), contohnya seperti fried chicken atau pizza yang menjamur di kota-kota besar itu loh. Waralaba ada yang ’induknya’ berasal dari luar negeri, tapi banyak juga yang dari dalam negeri sendiri.

[2] ini istilah saya saja sih untuk menyebut perilaku yang suka ikut-ikutan, mengikuti apa-apa yang sedang tren.

[3] buat yang belum tau itu sejenis makanan khas daerah yang terbuat dari singkong.