Indonesia Kapitalis..?!?

Sebagai mahasiswa, saya mulai menemukan gejala aneh. Aneh sekali tepatnya.Sudah sering kita dengar atau kita pelajari bahwa Indonesia adalah negara yang berasaskan Pancasila dimana sistem ekonominya merupakan ekonomi Pancasila bukan kapitalis. Benarkah?Saya bukan hendak berdebat dengan dosen atau dengan guru SMA mengenai bentuk sistem perekonomian Indonesia tapi saya akan mencoba menganalisis bagaimana posisi Indonesia di era pasar bebas dan setidaknya menyadarkan kita bahwa kita memang sudah di ujung tanduk. ”Indonesia bukan kapitalis”. Kata ini yang masih saya pegang teguh sampai saat ini dan saya mempercayai hal itu tapi dengan catatan. Saham, bursa efek, suku bunga, hak paten, hak cipta dan lain sebagainya merupakan produk kapitalis. Tidak hanya itu, promnight, valentine, dansa, pizza, burger, dan yang parah lagi belakangan makin terdengar santer halloween…apaan tuh? Produk kapitalis kah? :mad: Saya lebih suka menyebut bahwa Indonesia merupakan negara yang berasaskan Pancasila namun terjebak dalam gelombang kapitalisme. Sama seperti negara Asia lainnya yang juga makin didera ke-kapitalisme-an akibat globalisasi.

Memang mungkin ada yang berfikir bahwa pembicaraan saya terlalu tinggi atau kasarannya muluk-muluk. Tapi sebagai mahasiswa ekonomi yang tidak ingin terjebak dalam situasi ’kapitalis’ yang semakin nyata, saya merasa mempunyai kewajiban untuk menumpahkan buah pikiran saya pada tulisan ini.Walaupun kita sudah merdeka (wiuh, lily sok pahlawan…), tapi saya rasa kita belum 100% terbebas dari imperalisme. Seperti orang-orang bilang dan sering didengungkan oleh para mahasiswa (kalau sedang demo) bahwa kita dijajah oleh neo-imperalisme. Hal itu seharusnya tidak hanya menjadi jargon saja tapi harusnya kita mulai sadar bahwa bahaya itu semakin nyata. Dari sektor ekonomi, kita telah terjebak dalam pengaruh kapitalis. Selain itu, di bangku kuliah kita juga banyak menggunakan literatur berbahasa asing (baca : bahasa inggris) yang sedikit banyak mengandung paham kapitalis atau setidaknya paham-paham asing. Hal ini mungkin juga disebabkan belum banyak rujukan buku yang berbahasa Indonesia (yang bisa dipakai sebagai pedoman kuliah tentunya).

Contoh diatas baru dari bangku kuliah, belum lagi dari contoh lain seperti fashion, hiburan, gaya hidup (seperti promnight dan sebangsanya), makanan, dan banyak lagi yang telah terpengaruh gaya barat yang identik dengan produk kapitalis.Nah, semakin jelas, kan, tepatnya Indonesia kini sudah terjebak di antara gelombang kapitalis, sama seperti negara-negara Asia lainnya. Karena gelombang kapitalis begitu dahsyatnya menghantam perekonomian kita, akhirnya sebagai penetral, bagi yang berminat ditawarkan mata kuliah ’Ekonomi Islam’ sebagai alternatif pilihan (saya sendiri belum mengambil mata kuliah ini..mungkin semester depan).

Selain itu dengan adanya bisnis franchise [1] dari luar negeri merupakan bentuk kapitalisme baru yang saat ini makin menjamur di negeri ini dan mulai mematikan sektor usaha kecil dan mikro. Duh pokoknya kompleks deh kalau sudah ngomongin yang ginian.Setidaknya kita sadar kalau kita sudah terjebak. Tindak lanjutnya, janganlah kita sampai terseret dalam arus globalisasi. Kita seharusnya mempunyai identitas sebagai bangsa yang besar (ya ampun, bahasanya :lol: ) Jangan cuma asal ngikut aja kemana arus membawa kita. Hmm..butuh kerja keras untuk itu, sih. Apalagi kita sudah terbiasa ’latah’[2] dan kurang kreatif (mudah-mudahan saya tidak termasuk kedua kategori tersebut :roll: )Ingin nggak sekali-kali lihat para bule pake kebaya dan kondean atau makan getuk[3] :mrgreen: Sendirian melawan kapitalisme, tidak akan bisa merubah apapun. Maka marilah budayakan mencari jati diri bangsa. Mungkin kita keenakan makan fried chicken sampai kita lupa kalau di depan rumah kita ada penjual pempek. Mungkin kita keasyikan mengoleksi ’Gucci’ sampai lupa kalau kita punya ’Cibaduyut’ dan ’Dagadu’ (Upss..nyebut merk). Cukup sudah perekonomian kita terjajah oleh kapitalisme, tapi jangan sampai harga diri dan budaya kita terjajah juga. Beneran nih saya prihatin (serius !! )Mungkin tidak akan cukup saya berbicara mengenai hal ini dengan sederet tulisan ini (sederet?!…berderet-deret maksudnya :D ). Lain kali akan saya sambung lagi…. :) Sampai tulisan ini selesai dibuat pun saya masih percaya bahwa Indonesia bukan kapitalis tapi terjebak dalam gelombang kapitalisme.

Footnote:

[1] waralaba. Semacam lisensi tapi bukan lisensi (aduh, susah njelasinnya…), contohnya seperti fried chicken atau pizza yang menjamur di kota-kota besar itu loh. Waralaba ada yang ’induknya’ berasal dari luar negeri, tapi banyak juga yang dari dalam negeri sendiri.

[2] ini istilah saya saja sih untuk menyebut perilaku yang suka ikut-ikutan, mengikuti apa-apa yang sedang tren.

[3] buat yang belum tau itu sejenis makanan khas daerah yang terbuat dari singkong.

7 Responses to “Indonesia Kapitalis..?!?”


  1. 1 yud1 June 25, 2007 at 6:49 am

    lho, kok paragraf sama footnote-nya nggak lepas? salah tulis-kah?

    kapitalisme, yah. tapi yang ada sekarang, tampaknya malah tidak ada kapitalisme murni atau sosialisme murni di dunia, sih. ada juga sistem ekonomi campuran… walaupun lebih beratnya cenderung ke kapitalis, sih. di US sendiri juga pemerintahnya masih turun tangan untuk melakukan regulasi ekonomi, bukan?

    kalau saya sih tidak melihat masalah dengna kapitalisme… yah, kecuali mungkin kecenderungan untuk menjadi free fight liberalism, sih. tapi untuk saat ini, kan sistem tersebut yang paling laku? belum lagi sejarah negara-negara dengan sistem sosialis banyak yang tinggal sejarah.

    yah, budaya itu memang produk kapitalis, sih. tapi sistem dengan produknya kan hal yang berbeda? mungkin lebih tepat kalau disebut ‘korban produk budaya kapitalis’, yah. IMO :wink:

  2. 2 lily June 26, 2007 at 1:55 am

    hm..yud1 harap maklum..
    ni masih dalam underconstruction :wink:
    akhirnya aku coba pake ocadia juga setelah beberapa kali ganti theme.
    ya emang agak nggak ngait sistem perekonomian sama budaya, makanya aku tulis
    “Cukup sudah perekonomian kita terjajah oleh kapitalisme, tapi jangan sampai harga diri dan budaya kita terjajah juga”.
    begicu maksudku..

  3. 3 sikabayan July 23, 2007 at 11:46 am

    euh… kapitalis vs super pajak teh… pemenangnyah adalah… pemilik hasil pajaaak…

  4. 4 riza August 16, 2007 at 10:56 am

    kapitalis??
    siapa punya modal, dia akan berjaya. kekuasaan ada di tangan kapital. kita bisa melihat kesenjangan yang sangat nyata dalam dunia kapitalis. wah sayangnya saya lagi ga bawa data empiris ttg kesenjangan ini :)

    kalau lihat pancasila tidak bisa menunjukkan jatidirinya di hadapan kapitalisme, berarti pancasila bukan tandingan kapitalisme…
    that’s what i think

    salam kenal ya :)

  5. 5 lily November 5, 2007 at 1:06 pm

    @si kabayan
    aduh nggak ngerti tapi kayaknya nggak gitu deh kang kabayan

    @riza
    bukan, bukan itu. pancasila adalah ideologi yang masih harus kita jaga untuk melawan kapitalis maupun paham-paham yang tidak sesuiai dengan ideologi kita
    sistem ekonomi pancasila adalah bentuk yang paling ideal untuk masyarakat kita yang pluralistik. (lihat tulisan dari bapak Sri Edi Swasono dan Bapak Emil Salim)
    cuma masalahnya kita sekarang ini belum sadar aja sama apa yang sebaiknya kita lakukan..
    kapitalis dan sosialis tuh bukan kita banget…

  6. 6 P.K Rarih P.B April 13, 2008 at 1:44 pm

    Kapitalisme ? Sosialisme ? Pancasila ??? sebenarnya sih menurut saya Pancasila sudah ideal untuk indonesia yang majemuk ini, namun dalam prakteknya disitu penyimpangan banyak terjadi. mengapa ???? terlalu banyak oportunis di Indonesia tercinta ini, pemburu – pemburu komisi,dan terlalu banyak manipulasi, penindasan, bahkan marginalisasi. Nah….. Pancasila ter – erosi oleh pengikutnya sendiri. Apa solusinya ? solusinya adalah idealisme non fundamentalis, dan kepedulian tinggi disertai dengan pengobaran semangat nasionalisme dan patriotisme tinggi.

  7. 7 arief June 29, 2008 at 4:08 pm

    apakah DEMOKRASI jg bagian dr kapitalis????


Leave a Reply